Mungkin kita adalah termasuk seseorang yang sangat bersahabat dengan kemarahan.. jika kita renungkan baik – baik sebenernya apa sih yang bisa kita peroleh dari sebuah kemarahan? sebenarnya seorang yang diam dan tidak bisa marah bukanlah dapat disebut sebagai orang yang penyabar.. orang penyabar adalah orang yang bisa mengelola kemarahannya dengan tetap berlaku adil dan bijak..
Kehati-hatian dalam bereaksi terhadap yang membuat kita marah itu lah yang menjadikan kita tampil sabar..Orang yang mampu mengendalikan kemarahannya dengan baik untuk memberikan tindakan yang menenangkan dan positif berati orang tersebut telah berhasil mencapai kemapanan hati dan siap naik ke level yang lebih tinggi..
Ternyata kita akan merasa jauh lebih menderita karena kemarahan kita dibandingkan hal-hal yang membuat kita marah..
Sedangkan sebaliknya orang yang tidak mampu mengendalikan kemarahannya adalah orang terlempar dari level kemapanannya dan bersiap2lah untuk direndahkan karena pikirannya yang tidak berpikir jernih dalam suasana kemarahan..
Sebenarnya reaksi yang anda tampilkan ketika kita marah, menunjukkan kepada dunia tentang level kita yang sesungguhnya..
Jika kita menasehatkan sesuatu yang belum pernah kita lakukan, cepat atau lambat kita akan diuji dengan apa yang kita nasehati. Nasehat tentang kesabaran, maka kesabaran kita akan diuji. Mengapa hal ini terjadi? Karena Tuhan begitu menyayangi manusia. Dia tidak ingin manusia menasehatkan sesuatu yang belum dirasakannya. Tuhan memurnikan manusia.
* Orang yang menghindari kesalahan, tidak akan tumbuh
* Nikmatilah setiap proses kehidupan
Orang lain adalah cermin. Ada dua jenis : cermin baik dan buruk. Cermin buruk, sebaik apapun diri kita, akan tetap memantulkan gambar diri yang bengkok. Itulah mengapa kita perlu bergaul dengan lingkungan yang baik
* Budi Pekerti adalah tindakan baik yang didasari oleh tujuan yang baik. Tujuan kemanusiaan dari budi pekerti adalah agar kita berguna bagi sesama. Tujuan keTuhanan dari budi pekerti adalah agar kita menjadi kekasih Tuhan.
* Jika hidup dan matiku untuk Tuhan, untuk saya apa? kita dapat apa yang Tuhan miliki.(Inna Sholati wanusuki wamahya ya wama mati lilahirabbil`alamin)
* Kebesaran orang bukan ditentukan oleh besar kecil tubuhnya, melainkan besar kecil hatinya
* Tidak mungkin ada dua benda dalam satu ruang. Pilih apa yang hendak kita masukkan ke hati kita : kebaikan atau kejahatan?
* Hadiah pertama bagi orang yang melakukan kebaikan adalah kebaikan
* Penampilan terbaik dari seseorang adalah penampilan yang mewakili hati yang baik
* Ada kata - kata : “gunakan hatimu”. Dalam menentukan keputusan, gunakan logika atau perasaan?
Pertimbangan berdasarkan logika memiliki batas. Batasnya adalah pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan RASA, merupakan “alat” pertimbangan yang lengkap. Masalahnya, rasa “meRASAkan menggunakan HATI” tersebut perlu dilatih, latih hati dengan menentukan banyak keputusan dan belajar dari keputusan tersebut. INGAT! Tuhan lebih banyak berbicara kepada kita melalui hati daripada melalui pikiran.
* Manusia terindah adalah manusia yang bermanfaat untuk saudaranya..........
Rabu, 11 Maret 2009
Kesabaran
Diposting oleh Wisnu Broto Susilo di 22.39 0 komentar
Rabu, 04 Februari 2009
Nasihat, sebuah jalan kemuliaan
Seorang bijak yang sangat terkenal kebaikan serta kesederhanaannya, selalu berkeliling tempat untuk menemui cendekia pandai atau seorang petani sekalipun. Satu-satunya yang beliau mintakan pada orang-orang yang ditemuinya, hanyalah sebuah nasihat. Tidak jarang, beliau membayar mahal atau menukarnya dengan pekerjaan kasar, apapun nasihat yang diperolehnya. Bahkan dalam satu perjalanan yang dikisahkan para penyair, beliau membawakan sekarung bawaan dari seorang budak untuk ditukar dengan nasihat dari budak itu.
Sebuah nasihat tidak ternilai harganya
Seperti halnya udara yang kita hirup tiap hari, ketiadaan orang menghargainya bukan berarti rendahnya kegunaan . Karena bagi seorang yang sedang tenggelam, maka hirupan-hirupan udara yang tersenggal, dapat menentukan kapan kematian itu datang.
Bagi banyak pribadi yang tidak cermat mengenali kegunaan sebuah nasihat, maka kumpulan tebal buku berisi nasihat terbaik pun, tidak menarik perhatiannya. Tetapi bagi mereka yang mengenali dengan cermat pentingnya sebuah nasihat, maka jangankan sebuah buku; sepatah dua patah kata berhikmah, lebih berharga daripada sekantung berlian.
Itu-lah sebabnya, tidak ada sebuah cara yang baku untuk memberikan harga atas sebuah nasihat yang sama.
Baca Selengkapnya......
Sebuah nasihat tidak ternilai harganya
Seperti halnya udara yang kita hirup tiap hari, ketiadaan orang menghargainya bukan berarti rendahnya kegunaan . Karena bagi seorang yang sedang tenggelam, maka hirupan-hirupan udara yang tersenggal, dapat menentukan kapan kematian itu datang.
Bagi banyak pribadi yang tidak cermat mengenali kegunaan sebuah nasihat, maka kumpulan tebal buku berisi nasihat terbaik pun, tidak menarik perhatiannya. Tetapi bagi mereka yang mengenali dengan cermat pentingnya sebuah nasihat, maka jangankan sebuah buku; sepatah dua patah kata berhikmah, lebih berharga daripada sekantung berlian.
Itu-lah sebabnya, tidak ada sebuah cara yang baku untuk memberikan harga atas sebuah nasihat yang sama.
Diposting oleh Wisnu Broto Susilo di 22.08 0 komentar
Minggu, 04 Januari 2009
Renungan membangun sebuah kehidupan
Mari kita perhatikan bagaimana kehidupan ini mempunyai keteraturan yang jeli dan cara-cara yang kreatif untuk menanggalkan topeng yang selama ini dikenakan oleh orang -orang yang tidak jujur kepada keluarga, sahabat, dan mereka yang dipimpinnya - justru pada puncak ketenaran mereka, atau pada saat seharusnya mereka beristirahat tenang di hari tua. Dan sebetulnya kita semua sedang menunggu. Maka pastikan lah bahwa kita hidup dalam sebuah rancangan yang baik, agar akhir yang pasti datang itu datang untuk merayakan kemenangan hidup kita.
Sebagian masalah dalam hidup ini berperilaku persis seperti sebuah bawang merah, yaitu – semakin kita mengupasnya – semakin kita ingin menangis. Masalah seperti itu akan terselesaikan bila kita menyelesaikan masalah lain yang mungkin adalah bibit dari masalah ‘bawang merah’ itu. Seperti misalnya, berhenti memberikan nasehat kepada rekan yang berlaku buruk kepada kita, dan mengalihkan perhatian kita kepada upaya untuk memperbaiki ketulusan dan kesantunan kita dalam berhubungan dengannya.
Maka, kita yang berhasil menyesuaikan diri dengan masalah-masalah kita – tidak akan terjebak ke dalam kecenderungan umum untuk berlama-lama mendiskusikan masalah, mencari tahu siapa yang bisa disalahkan, dan menolak untuk menerima kemungkinan bahwa kita juga adalah bagian dari masalah itu.
Itu sebabnya, kita harus lebih berhati-hati tentang sikap dan perilaku yang akan kita jadikan sebagai kebiasaan kita, karena dia-lah yang akan memainkan kehidupan kita.
Baca Selengkapnya......
Sebagian masalah dalam hidup ini berperilaku persis seperti sebuah bawang merah, yaitu – semakin kita mengupasnya – semakin kita ingin menangis. Masalah seperti itu akan terselesaikan bila kita menyelesaikan masalah lain yang mungkin adalah bibit dari masalah ‘bawang merah’ itu. Seperti misalnya, berhenti memberikan nasehat kepada rekan yang berlaku buruk kepada kita, dan mengalihkan perhatian kita kepada upaya untuk memperbaiki ketulusan dan kesantunan kita dalam berhubungan dengannya.
Maka, kita yang berhasil menyesuaikan diri dengan masalah-masalah kita – tidak akan terjebak ke dalam kecenderungan umum untuk berlama-lama mendiskusikan masalah, mencari tahu siapa yang bisa disalahkan, dan menolak untuk menerima kemungkinan bahwa kita juga adalah bagian dari masalah itu.
Itu sebabnya, kita harus lebih berhati-hati tentang sikap dan perilaku yang akan kita jadikan sebagai kebiasaan kita, karena dia-lah yang akan memainkan kehidupan kita.
Diposting oleh Wisnu Broto Susilo di 20.31 0 komentar
Mencari kekuatan Diri
Pikiran Kita adalah jalan untuk menemukan diri Kita sendiri.
Itu sebabnya, Kita tidak mungkin mengenal diri Kita sendiri, bila Kita tidak membiasakan diri untuk berbincang dengan akrab dengan diri kita sendiri.
Pikiran Kita adalah kekuatan Kita.
Maka pastikanlah bahwa Kita memilh pikiran yang besar, yang berani, dan yang kuat – terutama bila Kita sedang dihadapkan kepada sebuah kesulitan yang besar. Dan bila tindakan adalah satu-satu-nya kegiatan yang bisa mengubah sebuah kemungkinan – menjadi kenyataan, maka memilih pikiran yang baik adalah sebuah tindakan yang cerdas.
Ingatlah bahwa hanya pikiran Kita yang dapat membantu Kita untuk tumbuh lebih besar daripada batasan-batasan Kita. Bahkan, pikiran Kita lah yang akan menjadikan Kita lebih kuat dari semua kelemahan yang terlahirkan bersama Kita.
Maka, bagi orang kuat – kekuatan adalah sesuatu yang biasa, dan bagi orang yang ikhlas – kesediaan adalah juga sesuatu yang wajar. Hanya bagi orang yang lemah – kekuatan itu mengagumkan; dan hanya bagi orang yang masih menghitung – keikhlasan itu mengherankan.
Dengannya, Kita hanya sekuat kesediaan Kita untuk melakukan yang wajarnya tidak akan dilakukan oleh oran lain.
Baca Selengkapnya......
Itu sebabnya, Kita tidak mungkin mengenal diri Kita sendiri, bila Kita tidak membiasakan diri untuk berbincang dengan akrab dengan diri kita sendiri.
Pikiran Kita adalah kekuatan Kita.
Maka pastikanlah bahwa Kita memilh pikiran yang besar, yang berani, dan yang kuat – terutama bila Kita sedang dihadapkan kepada sebuah kesulitan yang besar. Dan bila tindakan adalah satu-satu-nya kegiatan yang bisa mengubah sebuah kemungkinan – menjadi kenyataan, maka memilih pikiran yang baik adalah sebuah tindakan yang cerdas.
Ingatlah bahwa hanya pikiran Kita yang dapat membantu Kita untuk tumbuh lebih besar daripada batasan-batasan Kita. Bahkan, pikiran Kita lah yang akan menjadikan Kita lebih kuat dari semua kelemahan yang terlahirkan bersama Kita.
Maka, bagi orang kuat – kekuatan adalah sesuatu yang biasa, dan bagi orang yang ikhlas – kesediaan adalah juga sesuatu yang wajar. Hanya bagi orang yang lemah – kekuatan itu mengagumkan; dan hanya bagi orang yang masih menghitung – keikhlasan itu mengherankan.
Dengannya, Kita hanya sekuat kesediaan Kita untuk melakukan yang wajarnya tidak akan dilakukan oleh oran lain.
Diposting oleh Wisnu Broto Susilo di 20.15 0 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)


